Candi Prambanan
Candi Prambanan
atau Candi Loro Jonggrang adalah
kompleks candi Hindu
terbesar di Indonesia Candi yang merupakan salah satu
candi terindah di Asia Tenggara ini terletak di Desa
Karangasem, Kecamatan Bokoharjo, 16 Km dari Kota Yogyakarta, tepat di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah
dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi
yang dibangun pada abad ke-9 masehi ini dipersembahkan untuk Trimurti,
tiga dewa utama Hindu, yang terdiri dari Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pemelihara), dan Siwa (dewa pemusnah). Berdasarkan Prasasti Siwagrha, nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha
(bahasa Sansekerta, yang berarti 'Rumah Siwa'). Pada
bagian ruang utama candi ini terdapat arca Siwa setinggi tiga meter. Ini menujukkan
bahwa dewa Siwa lebih diutamakan di candi ini. Candi ini termasuk dalam salah
satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Bangunan candi berbentuk tinggi dan
ramping khas arsitektur bangunan Hindu
pada umumnya. Terdapat Candi Siwa
sebagai candi utama disini. Tingginya 47 meter di tengah kompleks candi-candi
yang lebih kecil. Candi ini selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para
wisatawan, baik domestik maupun mancanegara karena kemegahannya.
copyright: liburanjogja.co.id |
Goa Jepang Kaliurang
Berlokasi
di sisi barat bukit
Plawangan, Kaliurang, goa ini merupakan goa peninggalan penjajahan
Jepang yang dibangun sejak tahun 1942-1945. Karena dibangun atas perintah dari
pemimpin Jepang pada masa itu, goa ini dinamakan Goa Jepang. Goa ini memiliki kedalaman
sekitar 50 meter. Sayangnya, goa ini sekarang sudah tidak terawat. Banyaknya
coretan di dinding goa dan aroma yang agak pesing agak mengganggu kegiatan
wisata. Sebenarnya jika dirawat dan dikelola dengan baik, goa ini dapat
dijadikan sebagai destinasi wisata yang lebih baik, selain karena goa ini
merupakan salah satu peninggalan sejarah yang mesti dilestarikan.
copyright:foblog.psikomedia.com |
Untuk mencapai goa Jepang,
pengunjung harus melewati jalan dengan medan yang cukup menantang. Di dalam goa
jepang ini tidak ada stalaktit atau
stalagmit seperti goa-goa lainnya. Uniknya, di dalam goa tersebut terdapat
sebuah persegi seperti bak mandi. Menurut penduduk setempat, persegi tersebut
sering digunakan oleh para tentara Jepang untuk mandi.
Benteng Vredeburg
Benteng
Vredeburg didirikan pada tahun 1760 oleh Sultan Hamengku Buwono I atas
permintaan Belanda. Awalnya benteng ini hanyalah berupa benteng sederhana yang
berbentuk bujur sangkar. Disetiap sudutya memiliki bastion yang mempunnyai nama
berbeda-beda seperti Jayaprayitna (bastion sudut tenggara), Jayaprakosaning
(bastion sudut barat daya), Jayawisesa (bastion sudut barat laut), dan terakhir
Jayapurusa (bastion sudut timur laut). Selang 2 tahun kemudian melalui W.H
Ossennberch, Belanda mengusulkan untuk memperkokoh bangunan. Namun baru tahun
1967 pembangunan benteng dimulai. Butuh waktu 20 tahun untuk menyelesaikan
pembangunan benteng, dan kemudian diberi nama Benteng Rustenburg yang berarti
Benteng Peristirahatan.
copyright: djangkarubumi.com |
Pada tahun 1867 gempa bumi hebat
mengguncang Yogyakarta dan merubuhkan beberapa bangunan termasuk Benteng
Rustenburg. Setelah bencana berlalu, benteng tersebut kembali dibenahi dan
diberi nama Benteng Vredeburg atau Benteng Perdamaian. Nama ini dipilih sebagai
bentuk perdamaian antara kolonial Belanda dan Kesultanan Yogyakarta. Tahun demi
tahun berganti, kepemilikan dari Benteng Vredeburg pun silih berganti. Mulai
dari VOC, pemerintah Belanda, Inggris, Jepang dan baru setelah Indonesia
merdeka Benteng Vredeburg sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah Indonesia.
Sejak tahun 1992 Benteng Vredeburg
dialihfungsikan menjadi monumen perjuangan nasional yang diberi nama Museum
Benteng Vredeburg. Saat ini pada bulan tertentu di tempat ini diselenggarakan
Festival Kesenian Yogyakarta atau yang dikenal dengan FKY.
Gedung Sate
Apa yang kamu pikirkan ketika pertama kali mendengar
Gedung Sate? Gedung yang didalamnya dipenuhi oleh sate ? Atau sebuah gedung
yang menjual berbagai jenis sate? Tentu bukan, karena Gedung Sate adalah sebuah
bangunan tua peninggalan kolonial Belanda yang berada di kota Bandung. Lebih dikenal
dengan nama Gedung Sate dikarenakan di puncak gedung terdapat tusuk sate dengan
enam buah ornamen berbentuk jambu air. Awal mulanya, Gedung Sate bernama
Gouvernements Bedrijven (GB). Pada masa itu, gedung sate digunakan sebagai
Kantor Pemerintahan Hindia-Belanda. Setelah itu pada tahun 1980 digunakan
sebagai Kantor Pusat Pemerintahan Jawa Barat.
copyright: id.wikipedia.org |
Gedung sate berlokasi di Jalan Diponegoro No.22, Cihaurgeulis,
Kecamatan Coblong. Di sekitaran gedung sate terdapat bangunan-bangunan tua lainnya
seperti Museum Geologi, Gedung Nirwana, dan Museum Pos Indonesia.
Arsiteknya adalah
seorang
warga negara Belanda bernama J. Gerber Pembangunan dimulai pada tanggal 27 Juli
1920 dan diselesaikan kurang lebih 4 tahun setelah itu. Dalam pembangunannya, dipekerjakan
sekitar 2000 pekerja. Arsitektur bangunan ini lebih mengarah ke arsitektur
Eropa. Material bongkahan-bongkahan batu yang menyusun setiap sisi Gedung Sate
membuatnya berdiri kokoh di tengah bangunan-bangunan modern yang memenuhi kota
Bandung.
Kini
Gedung Sate menjadi landmark kota Bandung sehingga membuatnya menjadi
salah satu tujuan wisata utama para wisatawan yang berkunjung ke kota Bandung. Bangunan
ini merupakan aset yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi. Tidak heran bila
gedung yang terletak di Kota Bandung ini menjadi simbol Jawa Barat. Tusuk sate
yang tertancap di puncak gedung semakin memperkuat ciri khas gedung yang kini
menjadi pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dengan bentuk bangunan persegi
panjang, membentang dari Selatan ke Utara, Gedung Sate bersumbu lurus ke
tengah-tengah Gunung Tangkuban Perahu.
Mengenai enam ornamen jambu
air yang ada di Gedung Sate, konon melambangkan modal awal pembangunan pusat pemerintahan
sebesar 6 juta Gulden. Dengan modal awal itu, dapat terselesaikan bangunan
utama Gedung Sate, Kantor Pusat Pos Telegraf dan Telepon (PTT), Laboratorium
dan, Museum Geologi serta Dinar Tenaga Air dan Listrik. Namun akibat resesi ekonomi dunia pada tahun 1930 yang juga melanda pemerintah
Belanda di Indonesia, bangunan pusat pemerintahan tersebut tidak dapat
terselesaikan seluruhnya.
Meski demikian, berdirinya Gedung Sate yang anggun, megah dan monumental, sudah menjadi suatu fenomena tersendiri dari cerita sejarah Jawa Barat. Kini, setelah 88 tahun lamanya, Gedung Sate masih kokoh berdiri dan menjadi saksi perjalanan Pemerintah Jawa Barat menuju terciptanya masyarakat yang Gemah Ripah Repeh Rapih Kerta Raharja.
Meski demikian, berdirinya Gedung Sate yang anggun, megah dan monumental, sudah menjadi suatu fenomena tersendiri dari cerita sejarah Jawa Barat. Kini, setelah 88 tahun lamanya, Gedung Sate masih kokoh berdiri dan menjadi saksi perjalanan Pemerintah Jawa Barat menuju terciptanya masyarakat yang Gemah Ripah Repeh Rapih Kerta Raharja.
Candi Barong
Candi Hindu yang pada relung tubuhnya terdapat
hiasan Kala yang menyerupai barong ini terletak di Dusun Candisari, Desa
Bokoharjo, Kecamatan Prambanan. Candi ini diperkiraan menjadi tempat pemujaan
Dewa Wisnu karena ditemukan arca Dewi Sri (dewi kesuburan, istri Dewa Wisnu)
dan Dewi Laksmi (pengiring Dewa Wisnu). Selain itu, terdapat hiasan kerang
bersayap (Sankha) yang merupakan salah satu simbol Dewa Wisnu. Bagian puncak
bangunan berbentuk menyerupai permata Kemungkinan bangunan candi ini dulunya difungsikan
untuk melaksanakan kegiatan pemujaan untuk memohon kesuburan kepada Dewi Sri.
copyright: yogyatrip.com |
Halaman komplek candi ini berupa tiga buah teras yang semakin tinggi ke
arah timur yang merupakan bagian belakang. Pada teras tertinggi terdapat sebuah
selasar dan dua buah candi yang tidak memiliki jendela dan pintu. Candi pertama
berukuran 8,20 m x 8,20 m dengan tinggi 9,25 m, sedang candi kedua berukuran
8,25 m x 8,25 m dengan tinggi 9,25 m. Pada masing-masing sisi bangunan candi
terdapat relung dengan hiasan kala dan makara. Teras tertinggi ini merupakan
halaman yang paling suci. Perbedaan antara keduanya terletak pada ragam hias
dan arcanya. Berdasarkan kedua hal tersebut, candi pertama diduga dibangun
untuk pemujaan dewa Wisnu, sedangkan candi kedua untuk Dewi Sri.